DESAIN PEMBELAJARAN

DESAIN PEMBELAJARAN

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah “Teknologi Pendidikan Islam

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. H. Yatim Riyanto, M. Pd

Dr. As’aril Muhajir, M. Ag

Dr. Abd Aziz, M. Pd. I

 

 

Gambar 

 

 Oleh:

MIFTAHUL ULUM   NIM. 2841114041

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCASARJANA

STAIN TULUNGAGUNG

PEBRUARI 2013

 

 

DESAIN PEMBELAJARAN

  1. A.    Pendahuluan

Pendidikan di sekolah bukan hanya ditentukan oleh usaha murid secara individual saja atau usaha guru kepada murid. Melainkan juga usaha-usaha yang dilakukan oleh guru dalam mengelola pendidikan di sekolah, usaha-usaha yang dilakukan guru dalam mengelola siswa di rumah maupun juga mengelola di siswa di lingkungan masyarakat. Anak itu berbeda-beda bukan hanya dipengaruhi oleh bakat dan minat saja, melainkan dipengaruhi banyak hal. Dari faktor banyak hal tersebut seorang guru dituntut untuk lebih menguasai kesemuanya itu. Dari sini lah desain pembelajaran hadir untuk mempersiapkan atau untuk memudahkan guru dalam melaksanakan tugasnya. Dengan desain pembelajaran ini guru bisa mengatur dan mengelola pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan, bakat, minat serta keadaan psikologis siswa.

 Desain pembelajaran merupakan hal yang begitu penting bagi seseorang yang akan melaksanakan tugas atau pekerjaannya, lebih-lebih seorang guru. Guru memiliki tugas/pekerjaan mengajar (mengelola pengajaran). Supaya seorang guru dapat menyusun perencanaan pengajaran dengan baik, maka harus memperhatikan prinsip-prinsip pengajaran dan memahami strategi pengajaran. Oleh sebab itu kita harus memahami terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan desain pembelajaran? Serta menjelaskan kiteria desain pembelajaran Dan menguraikan modul desain pembelajaran.

Dari adanya pemahaman dari seorang guru mengenai desain pembelajaran nantinya diharapkan guru mampu mengaplikasikannya, sehingga dapat memberikan peningkatan kepada mutu pendidikan di Indonesia. Namun, tidak hanya sekedar dengan memahami saja, mengaplikasikannya saja perlu juga usaha sungguh-sungguh yang dilakukan guru, siswa, orangtua, masyarakat dan juga pemerintah untuk merubah pendidikan untuk mencapai pendidikan yang ideal.

Seiring dengan berkembangnya pendidikan dan sistem pendidikan di Indonesia, seluruh elemen masyarakat, utamanya yang terkait langsung dengan pendidikan dituntut untuk lebih kreatif dan profesional untuk mengembangkan pendidikan. Selain itu, para pelaku pendidikan juga diharapkan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan bersama sesuai dengan kebutuhan dan tantangan pendidikan.

Untuk itulah perlu adanya cara atau metode untuk menjawab tangtangan-tantangan yang muncul seiring dengan berkembangnya waktu, maka muncullah cara atau metode yang disebut perencanaan dan desain pembelajaran yang diharapkan akan lebih memudahkan proses belajar mengajar, dan khususnya yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam.

  1. B.     Pengertian Desain Pembelajaran

Istilah pengembangan sistem instruksional (instructional system development) dan desain instruksional (instructional design) sering dianggap sama, atau setidak-tidaknya tidak dibedakan secara tegas dalam penggunaannya, meskipun menurut arti katanya ada perbedaan antara “desain” dan “pengembangan”. Kata “desain” berarti membuat sketsa atau pola atau outline atau rencana pendahuluan. Sedang “Pengembangan” berarti membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif dan sebagainya.[1]

Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembengan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. Desain pembelajaran sebagai proses. merupakan pengembangan sistematis tentang spesifikasi pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran dan teori belajar untuk menjamin mutu pembelajaran.

Desain pembelajaran merupakan proses keseluruhan tentang kebutuhan dan tujuan belajar serta sistem penyampaiannya. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan bahan dan kegiatan pembelajaran, uji coba dan penilaian bahan, serta pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Untuk memahami lebih jauh tentang teori dan aplikasi desain pembelajaran.[2]

Desain Pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, rumusan tujuan pembelajaran dan merancang “perlakuan” berbasis media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas.

  1. C.     Model-Model Pengembangan Desain
    1. Model Pengembangan Pembelajaran Menurut Dick & Carey

Perancangan pengajaran menurut sistem pendekatan model Dick & Carey, dikembangkan oleh Walter Dick & Lou Carey. Menurut pendekatan ini terdapat beberapa komponen yang akan dilewati di dalam proses pengembangan dan perancangan tersebut yang berupa urutan langkah-langkah. Urutan langkah-langkah ini tidaklah kaku. Tetapi sebagaimana ditunjukkan Dick & Carey, bahwa telah banyak pengembang perangkat yang mengikuti urutan secara ajek dan berhasil mengembangkan perangkat yang efektif.

Adapun urutan perancangan dan pengembangan model ini adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi tujuan pengajaran (Identity Instructional Goals)
  2. Melakukan analisis instruksional (Conducting a Goal Analysis)
  3. Mengidentifikasi tingkah laku awal/karakteristik siswa (identity Entry Behaviours, Characteristic)
  4. Merumuskan tujuan kinerja (Write performance Objectives)
  5. Pengembangan tes acuan patokan (Develop-criterian-referenced test items)
  6. Pengembangan strategi pengajaran (Develop Instructional Strategy)
  7. Pengembangan atau memilih pengajaran (Develop and Select Instructional Materials)
  8. Merancang dan melaksanakan evaluasi formatif (Design and Conduct Formative Evaluation)
  9. Menulis perangkat (Design and Conduct Summative Evaluation)
  10. Revisi pengajaran (Instructional Revitions).[3]

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Model Pengembangan Perangkat Four-D Model

Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate atau diadaptasikan menjadi model 4-D, yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran atau disingkat menjadi 4-P. Hal ini sesuai dengan gambar di bawah ini:

 Tahap I: Define (Pendefinisian)

Tahap define adalah tahap untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran. Tahap define ini mencakup lima langkah pokok, yaitu analisis ujung depan (front-end analysis), analisis siswa (learner analysis), analisis tugas (task analysis), analisis konsep (concept analysis) dan perumusan tujuan pembelajaran (specifying instructional objectives).

  1. Analisis Ujung Depan (front-end analysis)
  2. Perumusan Tujuan Pembelajaran (specifying instructional objectives)

Tahap II: Design (Perancangan)

Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran. Empat langkah yang harus dilakukan pada tahap ini, yaitu: (1) penyusunan standar tes (criterion-test construction), (2) pemilihan media (media selection) yang sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran, (3) pemilihan format (format selection), yakni mengkaji format-format bahan ajar yang ada dan menetapkan format bahan ajar yang akan dikembangkan, (4) membuat rancangan awal (initial design) sesuai format yang dipilih. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Penyusunan tes acuan patokan (constructing criterion-referenced test)
  2. Pemilihan media (media selection)
  3. Pemilihan format (format selection)
  4. Rancangan awal (initial design)

Tahap III: Develop (Pengembangan)

Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan produk pengembangan yang dilakukan melalui dua langkah, yakni: (1) penilaian ahli (expert appraisal) yang diikuti dengan revisi, (2) uji coba pengembangan (developmental testing).

Tujuan tahap pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bentuk akhir perangkat pembelajaran setelah melalui revisi berdasarkan masukan para pakar ahli/praktisi dan data hasil ujicoba. Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

  1. Validasi ahli/praktisi (expert appraisal)
  2. Uji coba pengembangan (developmental testing)

Tahap IV: Disseminate (Penyebaran)

Proses diseminasi merupakan suatu tahap akhir pengembangan. Tahap diseminasi dilakukan untuk mempromosikan produk pengembangan agar bisa diterima pengguna, baik individu, suatu kelompok, atau sistem. Produsen dan distributor harus selektif dan bekerja sama untuk mengemas materi dalam bentuk yang tepat.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan diseminasi adalah: (1) analisis pengguna, (2) menentukan strategi dan tema, (3) pemilihan waktu, dan (4) pemilihan media.

  1. Analisis Pengguna
  2. Penentuan strategi dan tema penyebaran
  3. Waktu
  4. Pemilihan media penyebaran

Untuk kepentingan diseminasi ini, Thiagarajan, dkk menetapkan kriteria keefektifan diseminasi, yaitu

  1. Clarity. Information should be clearly stated, with a particular audience in mind.
  2. Validity. The information should present a true picture.
  3. Pervasiveness. The information should reach all of the intended audience.
  4. Impact. The information should evoke the desire response from intended audience.
  5. Timeliness. The information should be disseminated at the most opportune time.
  6. Practicality. The information should be presented in the form best suited to the scope of the project, considering such limitations as distance and available resources.

Untuk kepentingan penelitian, model pengembangan Thiagarajan, dkk (1974) yang ditetapkan di atas perlu disesuaikan dengan rancangan penelitian dalam batasan rasional.[4]

  1. Model Desain Pembelajaran Wong dan Roulerson

Wong dan Roulerson mengemukakan 6 langkah pengembangan desain intruksional yaitu:

  1. Merumuskan tujuan
  2. Menganalisis tujuan tugas belajar
  3. Mengelompokkan tugas-tugas belajar dan memilih kondisi belajar yang tepat.
  4. Memilih metode dan media
  5. Mensintesiskan komponen-komponen pembelajaran
  6. Melakasanakan rencana, mengevaluasi dan memberi umpan balik.

 

  1. Model Pengembangan Desain Sistem Intruksional PPSI

PPSI mengandung pengertian bahwa PPSI menggunakan pendekatan sistem dimana pembelajaran adalah suatu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri dari seperangkat komponen yang saling berhubungan dan bekerjasama satu sama lain secara fungsional dan terpadu dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.

Dengan demikian PPSI adalah suatu langkah-langkah pengembangan dan pelaksanaan pembelajaran sebagai suatu sistem dalam rangka untuk mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien.[5] Model pengembangan intruksional PPSI ini memiliki 5 langkah pokok yaitu:

  1. Perumusan tujuan/kompetensi

Merumuskan tujuan/kompetensi beserta indikator ketercapaiannya yang harus memenuhi 4 kriteria sebagai berikut:

1)    Menggunakan istilah yang operasional

2)    Berbentuk hasil belajar

3)    Berbentuk tingkah laku

4)    Hanya satu jenis tingkah laku

  1. Pengembangan alat penilaian

1)    Menentukan jenis tes/intrumen yang akan digunakan untuk menilai tercapai tidaknya tujuan

2)    Merencanakan pertanyaan (item) untuk menilai masing-masing tujuan

  1. Kegiatan belajar

1)    Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan

2)    Menetapkan kegiatan belajar yang tak perlu ditempuh

3)    Menetapkan kegiatan yang akan ditempuh

  1. Pengembangan program kegiatan

1)    Merumuskan materi pelajaran

2)    Menetapkan model yang dipakai

3)    Alat pelajaran/buku yang dipakai

4)    Menyusun jadwal

 

  1. Pelaksanaan

1)    Mengadakan pretest

2)    Menyampaikan materi pelajaran

3)    Mengadakan posttest

4)    Perbaikan

  1. Model J.E. Kemp

Menurut Kemp (1977) pengembangan intruksional atau desain intruksional itu terdiri dari 8 langkah yaitu:

  1. Menentukan tujuan intruksional umum (TIU) atau Standar Kompetensi.
  2. Menganalisis karakteristik peserta didik
  3. Menentukan TIK atau Kompetensi Dasar.
  4. Menentukan materi pelajaran
  5. Menetapkan penjajagan awal (pre test)
  6. Menentukan strategi belajar mengajar
  7. Mengkoordinasi sarana penunjang, yang meliputi tenaga fasilitas, alat, waktu dan tenaga.
  8. Mengadakan evaluasi.
  9. Model Briggs

Model pengembangan intruksional Briggs ini bersandarkan pada prinsip keselarasan antara 1) tujuan yang akan dicapai, 2) strategi untuk mencapainya, dan 3) evaluasi keberhasilannya. Langkah pengembangan dimaksud dirumuskan kedalam 10 langkah pengembangan yaitu:

  1. Identifikasi kebutuhan/penentuan tujuan
  2. Penyusunan garis besar kurikulum/rincian tujuan kebutuhan instruksional yang telah dituangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujiannya harus dirinci, disusun dan diorganisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.
  3. Perumusan tujuan
  4. Analisis tugas/tujuan
  5. Penyiapan evaluasi hasil belajar
  6. Menentukan jenjang belajar
  7. Penentuan kegiatan belajar.
  8. Pemantauan bersama
  9. Evaluasi formatif
  10. Evaluasi sumatif

 

  1. D.    Pengembangan Desain Pembelajaran Pendidikan Islam

Dari beberapa teori yang dipaparkan di atas teori-teori tersebut mempunyai kelebihan dan juga kelemahan masing-masing. Di sini penulis ingin mengembangkan pendidikan islam yang sesuai dengan teori yang diajarkan oleh Four-D Model

Pengembangan model pembelajaran yang berpijak pada pandangan konstruktivisme berbeda dengan pandangan behaviorisme (misalnya model Dick dan Carey). Model pengembangan pembelajaran yang konstruktivis memiliki beberapa karakteristik, diantaranya (1) proses pengembangan pembelajaran bersifat recursive, non-linier, dan tidak ada kepastian(chaos), (2) desain bersifat reflektif dan kolaboratif, (3) tujuan muncul dari pekerjaan desain dan pengembangan, (4) pembelajaran menekankan pada belajar dalam konteks yang bermakna, (5) evaluasi formatif menentukan, dan (6) data subyektif lebih bernilai.

1. Define focus

Define focus dilakukan dengan cara membentuk tim pengembang (team partisipatory). Tugas tim ada 3, yakni (1) menciptakan dan mendukung tim partisipasi, (2) melakukan pemecahan masalah secara progresif, dan (3) mengembangkan pemahaman konstekstual.

Tim pengembang terdiri dari perwakilan pebelajar, pembelajar, desainer, seniman grafis, dan sebagainya. Tim bekerja mulai awal pengembangan produk sampai akhir. Anggota tim bisa melibatkan 1 -3 orang dari sudut pandang yang beragam, misalnya psikolog,. Mereka diharapkan dapat memberikan masukan dari sudut pandang yang berbeda.[6]

Dari pembentukan team ini nantinya akan diperoleh masukan-masukan dan masalah-masalah yang akan dihadapi. Sehingga nantinya bisa dihindari segala kemungkinan yang menjadi permasalahan.

2. Design and Development Focus

Desain dan pengembangan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, karena terkait dengan pengembangan pronesis dan pemecahan masalah secara progresif. Ada 4 aktivitas dilakukan dalam desain dan pengembangan ini, yakni (1) memilih lingkungan, (2) memilih format produk dan media, (3) menentukan format penilaian, dan (4) mendesain dan mengembangan produk. Dalam memilih lingkungan dan format media perlu memperhatikan 3 karakteristik penting yaitu power, flexibility, and accessibility dengan 2 komponen, yakni (1) perlengkapan/peralatan desain (tools of design), misalnya chart, video, komputer, dan lain -lain, (2) proses desain (process of design). Prosedur evaluasi lebih menekankan pada evaluasi formatif dengan pendekatan kualitatif. Alat pengumpul data yang diperlukan menggunakan metode observasi dan dukumentasi.

3. Dissemination Focus

Sebagaimana model sistem desain pembelajaran pada umumnya, fokus desiminasi terdiri dari 4 kegiatan yakni (1) evaluasi, (2) produk akhir, (3) difusi, dan (4) adopsi. Pada tahap ini produk pengembangan digunakan pembelajaran di sekolah/kampus dalam kelas yang sebenarnya. Perlu ditegaskan bahwa produk hasil pengembangn mungkin hanya cocok untuk konteks lokal, bukanuntuk semua konteks pembelajaran

Dalam evaluasi, data-data yang dikumpulkan adalah data kualitatif. Variabel-variabel yang diangkat lebih banyak bersifat kontekstual (ruang, waktu, kasus, masalah, materi) sehingga produk hasil pengembangan tidak dapat digeneralisasikan untuk semua latar (setting). Kerja yang berubah-ubah inilah kunci kesulitan dalam merancang pembelajaran konstruktivistik..[7]

 

 

  1. E.     Kesimpulan

 

  1. 1.                Desain Pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik
  2. Dalam bidang pendidikan desain pendidikan berkenaan dengan kurikulum, konseling, administrasi, evaluasi, dan pembelajaran. Kurikulum terutama berkenaan dengan apa yang akan diajarkan, sementara pembelajaran adalah bagaimana mengajarkannya.
  3. 3.                Dalam desain pembelajaran terdapat banyak model desain diantaranya:
    1. a.      Walter Dick & Lou Carey..
    2. Model Pengembangan Perangkat Four-D Model
    3. Model Desain Pembelajaran Wong dan Roulerson
    4. Model Pengembangan Desain Sistem Intruksional PPSI
    5. Model J.E. Kemp
    6. Model Briggs
  4. Dalam pengembangan desain pembelajaran pendidikan Islam ini lebih cocok menggunakan teori Dick & Carey dengan beberapa pertimbangan diantaranya:
    1. Setiap langkah jelas, sehingga dapat diikuti
    2. teratur, Efektif dan Efisien dalam pelaksanaan
    3. Merupakan model atau perencanaan pembelajaran yang terperinci, sehingga mudah diikuti
    4. Adanya revisi pada analisis instruksional, dimana hal tersebut merupakan hal yang sangat baik, karena apabila terjadi kesalahan maka segera dapat dilakukan perubahan pada analisis instruksional tersebut, sebelum kesalahan didalamnya ikut mempengaruhi kesalahan pada komponen setelahnya.
      • Model Dick & Carey sangat lengkap komponennya, hampir mencakup semua yang dibutuhkan dalam suatu perencanaan pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

http://zuhairistain.blogspot.com/2009/04/pengertian-desain-pembelajaran_16.html diakses pada tanggal

Walter Dick & Lou Carey, The Systematic design of Intrustion, Boston: Library of Congress Cataloging-in-Publication Data, 1937.

Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership Training Institute/Special Education, University of Minnesota.

Gagne, Robert,M. The Conditions of Learning, Holt, Rinehart and Winston, New York, 1977

 

 

 


[1] Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 95

[3] Walter Dick & Lou Carey, The Systematic design of Intrustion, (Boston: Library of Congress Cataloging-in-Publication Data, 1937), h. 1

[4] Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership Training Institute/Special Education, University of Minnesota.

 

[5] Harjanto, Perencanaan Pengajaran …, h. 75

[7] Ibid.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s